Anakku menempuh jarak 1000km

Perjalanan jauh memang mengasikkan apa lagi mengitari daratan, karena laut dan udara membuat saya galau akan kedalaman dan ketinggian, melintasi trans sulawesi selatan dan tenggara menempuh jarak 1000km lebih, bertolak dari jalan A.P. Pettarani sekitar jam 1:30 dini hari memasuki tol reformasi sampai ke maros sampai ke siwa, tujuan awalnya adalah mengejar kapal jam 2 siang, sesampai nya dipelabuhan siwa masih pagi sekitar jam 8 pagi, di dalam mobil kami hanya berempat, bapak dan ibuku, saya dan anakku yang masih berumur 4 tahun, sungguh alot dan bikin sakit hati sebenarnya di pelabuhan siwa itu, kami sudah reservasi dengan urutan nomer 10, pas jam 2 teng muncul jadwal keberangkatan bahwa mobil yang kami kendarai berada di urutan 14 artinya kami harus menunggu kapal berikutnya lagi, bagai mana tidak bikin gondog, ibu ku yang sedikit tempramen padahal aslinya ibuku itu sosok ibu yang yang paling saya sayangi dan baik hati walau saya sudah punya anak tiga tetap saja dia menganggap saya anak balita, puncak kemarahan dan batas kesabaran ibu ku sudah jebol dan disemprotlah seisi kantor pelabuhan, bapakku yang mempunyai pembawaan yang lebih sabar mengingat beliau adalah orang jawa yang agag kejawen sangat beda dengan ibu yang orang sulawesi langsung-langsung kek jalan tol 🙂
Kami menentukan pilihan menempuh sulawesi tenggara melalui darat, lalu kami berbalik arah menuju palopo dan serunya adalah petunjuk kami hanya penanda kilometer jalan dan google map? what are you doing with the google map, this is sulawesi man, no problem lah sudah berusaha keras dan terbayar sudah akhirnya kami singgah shalat Ashar di masamba (kampung nya evi masamba dandut akademi) hei saya berada di kampungnya Evi D-Akademi loh.
Perjalanan masih panjang jenderal sehabis menunaikan kewajiban kami sebagai muslim, lalu bertolak ke sorowako, pengalaman menarik masih seputar menerka dan again google map hahaha, “pak, kenapa ini di sebelah kiri kita banyak batu-batu kek tambang, seperti saya punya firasat buruk” bapakku sekilas mengamati dan sesekali mengeluarkan kepala menengadah ke atas bukit-bukit batu itu, “iya mas, jangan-jangan kita salah jalan, krena tidak ada rumah hanya gunung di sebelah kiri dan sungai besar di sebelah kanan” ibuku memanggil bapakku dengan sebutan mas yah krena bapakku orang jawa, mobil berhenti lalu bapakku keluar dan mencegat sebuah mobil yang sedari tadi beriringan dibelakang kami, “Pak mau tanya, apa betul ini jalan menuju kendari sulawesi tenggara” bapakku sedikit ketawa dan menoleh ke arah kami yang sedang menunggu jawaban juga “bapak sudah salah jalan, karena jalan ini menuju lokasi tambang, semestinya pas jembatan yang banyak warung di depan sana bapak mengambil arah ke kanan”. Jelas sudah bahwa kita sudah tersesat dan yang membuat ngakak, di persimpangan yang di maksud bapak tadi ada penunjuk arah bertuliskan besar arah kiri menuju lokasi penambangan sorowako dan arah kanan perbatasan sulawesi tenggara kampret bener dah :p.
Saat itu sudah gelap karena kita melewatkan 1 jam pejalanan karena tersesat, dan betul kejadian deh rencana awal kita harus sampai di perbatasan itu masih terang, jalan akses perbatasan trans sulawesi selatan dan tenggara tampak ada penjagaan, ada palang di jalanan dan ada beberapa polisi yang sedang berjaga, bapakku turun melapor karena ada tulisan tamu harap lapor, pak polisi langsung bertanya sambil mengamati pelat mobil kami DD artinya warga makassar “mau nyebrang ke tenggara, berapa orang di mobil pak, bisa liat KTP atau SIM dan STNK nya pak” pertanyaan pak polisi tegas dan ramah, “kami berempat, saya, istri, anak dan cucu, apa di perbatasan tidak ada issu yah pak, maksudnya aman tuk jalan malam?” pak polisi tersenyum dan memberi tanda aman dan selamat jalan kepada kami.
Sangat jauh berbeda kondisi perjalanan kami setelah melewati perbatasan, yang tadinya jalan mulus tiba-tiba berubah drastis hutan, hanya bulan sebagai penerang, jalan tanah berdebu, mendaki dan berkelok-kelok, nah disini adalah awal yang mengganggu areal nyaman anakku yang masih berumur 4 tahun itu, berkali-kali muntah karena mabuk perjalanan. Mungkin sekitar 6 atau 10 KM jalan berbatu nan terjal tersebut sampai akhirnya kami bertemu areal penduduk, sangat lega melihat rumah-rumah tersebut, sungguh rasanya tak terkira.
Kami pun singgah di sebuah warung tuk membeli air mineral saya pun menuju ke arah hutan kakao dan baru kali itu saya turun di tengah-tengah hutan kakao untuk kencing, “Permisi bang saya mau kencing’, entah kenapa bayangan saya seperti ada serigala yang mengawasi dari kejauhan (ah lebay) perjalanan pun kami lanjut dan Alhamdulillah mimpi buruk kami sudah terlewati, jalan yang mulus sampai di kolaka walau tetap penerangan sangat minim.

Hore kami sampai di kolaka, waktu itu sekitar jam 2 malam perjalanan sudah menempuh 24 jam, Kolaka adalah tempat kelahiranku, rumah yang kami singgahi adalah rumah Almarhum nenek dan kakek tempat ibunda ku tercinta di besarkan, sekarang kakak tertua dari ibuku yang tinggal disini, kalau ingin mencari PisangijoAMANDA di kolaka silahkan datang ke jalan Indumo, ada menu spesial juga yaitu Sup ubi, enak loh. Tidak banyak yang kami lakukan disini diantaranya siarah kubur, sejak kepergian kakek dan nenek baru kali ini saya siarah kubur (anak durhaka)
Tepat jam 10 pagi kami bertolak ke kendari, perjalanan kali terasa nyaman, karena berada di kampung sendiri, walau kami melewati hutan, jurang, kelak kelok perasaan tetap nyaman karena kami kenal lokasinya, kolaka kendari kami tempuh 5 jam perjalanan.

Perjalanan yang melelahkan selama 2 hari mengitari trans sulawesi selatan dan tenggara dengan jarak 1000KM lebih akhirnya finish juga bersama Fadli anak ke 2 ku, sungguh pengalaman perjalanan yang tidak terlupakan, saya sering bepergian ksana-kemari tapi menggunakan transportasi udara jika nyebrang antar provinsi.
Sekian dulu pengalaman saya bersama anakku memecahkan rekord perjalanan darat terjauh dalam hidup ku. Yeahhhh.