Friday, 23/6/2017 | 10:17 UTC+7

Kesamaan budaya Tolaki di Nusantara dan Dunia

Post by relatedRelated post

Sebelum suku Tolaki mengenal Islam, mereka telah mengenal tuhan dan menyebutnya sebagai Ombu (yang disembah) Ombu di percaya sebagai pencipta alam raya dengan segala isinya baik yang hidup maupun yang mati dipercaya berada diatas langit, sehingga tak asing jika dalam berdoa orang tua dulu sering menengadahkan kepala ke langit dan mengucapkan “poeheno sangia urano lahuene”.

Kepercayaan kuno masyarakat Tolaki bahwa semua jenis benda yang dapat diraba, dilihat dan dirasa, mempunyai “Sanggoleo” atau roh. Maka setiap roh itu dapat menjelma menjadi suatu bentuk serta dapat mempunyai sifat yang sama dengan sifat manusia. Roh yang dalam bahasa Tolaki di sebut “Sangia” diambil dari kata “sanghiang”

Ada beberapa jenis kepercayaan kuno dalam masyarakat Tolaki diantaranya adalah kepercayaan kepada Dewa Poyang Ama (Dewa laki-laki) dan Dewa Poyang Ina (Dewa Perempuan), bisa juga seorang ayah dan Ibu dianggap sebagai Dewa dan menganggap sebagai pencipta manusia, ini dapat dianalogikan dalam bentuk yang sederhana bahwa melalui hubungan bapak dengan ibu manusia itu lahir. Disisi lain bahwa penggunaan kata “Ama” untuk panggilan bapak dan “Ina” untuk panggilan ibu dalam bahasa Tolaki memiliki hubungan erat dengan sistem kepercayaan ini, karena kata Ama dan Ina adalah merupakan nama dari dewa.

istilah Poyang juga di kenal di tanah air bahkan di dunia, Poyang di definisikan sebagai po·yang n 1. leluhur; nenek moyang; 2. Mk moyang (orang tua kakek atau nenek); 3. kl dukun; pawang. Pada kepercayaan asli Siam, Dewa Langit dan Bumi disebut Po Yang dan Mo Yang, pada suku Munda disebut Yhaam dan Yheem, dalam kepercayaan Melayu kuno disebut Poyang dan Moyang atau Ame dan Ine, dalam kepercayaan asli Kamboja disebut Poyang Ame dan Poyang Ine, dalan kepercayaan Sunda Kuno disebut Sunan Bapa dan Sunan Ambu, Giok Tie dalam kepercayaan China. Kepercayaan tentang Tuhan langit dan Tuhan bumi ini tersebar luas di muka bumi ini.

Di Jepang di kenal Izanagi dan Izanarni adalah pencipta Moyang dan Poyang. Di bawahnya terdapat lebih 800 dewa, di antaranya: Tsukiyorni Dewi Bulan, Ebisu Dewi Perikanan, Uzuma Dewa Bahagia, dan Amaterasu Omikami Dewi Matahari. Cucunya bernama Ninigi no Mikoto yang berdiri di tepi langit, lalu ia turun dengan tongkat wasiatnya untuk menciptakan kepulauan Jepang. Setelah kepulauan itu tercipta, ia sampai di Pulau Kyushu membawa pedang, dan cermin. Kemudian ia menemukan tujuh putri sedang mandi dan mencuri baju terbang putri bungsu. Ia kawin dengan putri bungsu itu dan salah seorang keturunannya bemama Jimmu Tenno.

Sebahagian cerita rakyat dan mitos hampir memiliki kesamaan dengan yang lainnya, Mitos ini tersebar di seluruh Asia Tenggara, China, Jepang, Korea, dan sekitamya. Di Sulawesi terkenal cerita Ogo Amas, di Jawa cerita Jaka Tarub, di Filipina cerita Poyaka, serta di Sumatera cerita Putri Tujuh. Di Jepang ada cerita Ha Goromo yang kehilangan baju terbangnya; ia menangis dan akhirnya terpaksa menyerah dikawini oleh seorang pemuda pencuri baju terbangnya itu. Namun tatkala ia telah beranak seorang laki-Iaki dan baju­nya ditemukan kembali, ia terbang kembali ke angkasa. Sang suami menyu­sulnya dengan mengendarai seekor burung rajawali.
About