30 September 2020

ikhyarBlog

Mozzarella Murah Makassar

Konaweeha [bagian2]

Membaca kembali tesis saudara Yasmud yang berjudul “Tradisi Lisan Mowindahako Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara”, sangat membuka wawasan kita akan bagai mana sejarah jaman dulu, langkah preventif membuat dokumentasi sejarah adalah upaya menyelamatkan budaya hari ini dan kemudian kelak.

Saduran ini merupakan tulisan lanjutan dari tulisan sebelumnya mengenai Sejarah Konaweeha [bagian1] yang memperlihatkan periodik zaman waktu itu.

raja pertama Kerajaan Konawe bernama Totongano Wonua yang berkedudukan di Padangguni. Raja atau biasa disebut Mokole Padangguni, Totongano Wonua memiliki seorang putra bernama Langgai Moriana (Ramandalangi). Langgai Moriana kemudian menikah dengan putri dari Kerajaan Luwu yang bernama Wetenriabeng (Wekoila) saudara kandung Sawerigading (Larumbalangi). Setelah mereka menikah diangkatlah Wekoila menjadi Mokole More (Raja perempuan) pertama di Konawe.

Ramandalangi dan Mokole More Wekoila memiliki anak bernama Pode Suwa dengan gelar Elu Kambuka Sio Ropo (gadis yang berambut 9 depa) yang terkenal akan kecantikannya hingga di berbagai pelosok negeri. Pada masa itu, datanglah penyakit yang memusnahkan seluruh rakyat Kerajaan Konawe hingga Wekoila pun turut menjadi korban keganasan penyakit yang mematikan yang disebut Oropu. Hingga yang tersisa hanya Pode Suwa (Elu Kambuka Sio Ropo), Latuanda dan putrinya.

Pada masa itu ada seorang laki-laki bernama Onggabo (raksasa) yang melakukan perjalanan di Kerajaan Konawe dengan menyusuri Sungai Konawe’eha sampai ke hulu sungai. Dalam perjalanannya, Onggabo menemukan segulung rambut yang terbawa arus sungai Konawe’eha, ia pun berkesimpulan bahwa di hulu sungai pasti masih ada orang yang masih hidup. Ternyata perkiraan Onggabo benar bahwa memang masih ada manusia yang masih hidup.

Saat Onggabo mencari dimana kediaman orang yang masih hidup tersebut dan tidak berapa lama Onggabo menemukan gubuk Latuanda di pinggir sungai lalu ia pergi di gubuk itu. Setelah tinggal di gubuk Latuanda untuk beberapa lamanya, Onggabo kemudian meminang Pode Suwa (Elu Kambuka Sio Ropo), dan juga anak Latuanda, maka lahirlah anak-anak Onggabo. Onggabo kemudian menjadi raja di Kerajaan Konawe dan membangun istana raja di Olo-Oloho yang menjadi pusat penyelenggaraan pemerintahan.

Perkawinan Onggabo dengan Pode Suwa melahirkan dua anak yang bernama Anamiandapo dan Tanggolowuta. Setelah Onggabo mangkat, Anamiandapo kemudian menggantikan ayahnya menjadi raja di Kerajaan Konawe, namun tidak lama setelah itu, Anamiandapo mangkat dan tidak mempunyai keturunan akhirnya digantikan oleh adiknya Tanggolowuta menjadi raja Konawe. Raja Tanggolowuta memperistri Webarandi dan mempunyai dua orang puteri dengan nama Mbulanda dan adiknya bernama We’alanda.

Kedua putri Tanggolowuta akhirnya diperistri oleh Elu Langgai. Dari istri pertamanya Mbulanda ia mendapatkan seorang putera bernama Haluoleo, sedangkan pada istri keduanya ia mendapatkan empat orang anak yaitu Melamba, Puteo (kelak menjadi raja Bungku), Tawe Niwite (kelak menjadi raja di Moronene), dan Larono Wonua.

Setelah Raja Tanggolowuta mangkat, Melamba naik tahta menggantikan ayahnya menjadi raja Konawe dan beristrikan puteri mahkota dari Kerajaan Luwu yang bernama Tandriawe. Pada masa pemerintahannya, banyak gangguan dari kerajaan-kerajaan lain yang menyebabkan keamanan dan ketertiban di Kerajaan Konawe menjadi labil. Untuk itu, Raja Melamba kemudian meminta bantuan pada kakaknya Haluoleo untuk menghalau musuh-musuhnya, dan pada akhirnya dapat diatasi. Setelah Raja Melamba mangkat, maka berakhirlah dinasti Onggabo, Kerajaan Konawe mengalami kevakuman pemerintahan selama dua generasi.

Bersambung [bagian3]