Tag: Konaweeha

Konaweeha [bagian3] Selesai

Bentuk kerajaan Konawe jaman dulu tidak lebih atau lebih mirip sebuah komunitas bahkan kerajaan ini sempat terputus dua generasi lamanya dan akhirnya kemudian Kerajaan Konawe bangkit kembali dan melanjutkan dinasti kepemerintahan yang sudah lama vakum tersebut dengan mendirikan kembali pusat kerajaan di Inolobunggadue. Seorang raja yang di anggap titisan dewa. Raja Konawe tersebut bernama Tebawo dengan gelar Sangia Inato (Dewa yang Diatapi). Raja Tebawo menyusun kabinet pemerintahannya yang disebut Siwole Mbatohuu (Talam Anyam Persegi Empat), Pitu Dula Batu (Tujuh Loyang Batu), Tolu Mbulo Anakia Mbutobu (Tiga Puluh Bangsawan Penguasa Wilayah), Tolu’etu La’usa (Tigaratus Kepala Penguasa Wilayah), dan Sio Sowu Toono Nggapa (Sembilan Ribu Rakyat Kerajaan Konawe) Sepeninggal Tebawo, raja Konawe kemudian dijabat oleh Maago dengan gelar Sangia Mbinauti (Dewa yang Dipayungi), istrinya bernama Wataninda. Dari perkawinan mereka lahirlah Lakidende. Setelah ayahnya mangkat, Lakidende naik tahta dengan gelar Sangia Ngginoburu (Dewa yang Dikuburkan). Gelar itu disandangnya karena di masa pemerintahannyalah, Islam masuk di tanah Konawe, dan menjadi agama resmi di Kerajaan Konawe, Lakidende memiliki dua istri, namun ia tidak memiliki anak hingga ia mangkat.

Setelah Lakidende mangkat, terjadilah kekosongan pemerintahan di Kerajaan Konawe. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diingingkan, ditunjuklah Latalambe yang menjabat sebagai sulemandara (Perdana Menteri) untuk menjadi raja sementara di Kerajaan Konawe. Setelah Latalambe, menjabat kemudian dilanjutkan We’onupe. Selanjutnya Kerajaan Konawe diteruskan lagi oleh Saranani yang juga menjabat sebagai perdana menteri lalu menjadi raja sementara di Kerajaan Konawe.

Ketika Belanda datang di tanah Konawe, Kerajaan Konawe sedang mengalami kekalutan. Tidak dilantiknya mokole (raja) baru pengganti raja Lakidende menyebabkan wilayah di sebelah timur di Ranome’eto dan wilayah barat di Latoma memisahkan diri. Mereka tidak mau tunduk terhadap kepemimpinan sulemandara (Perdana Menteri). Kondisi negatif demikian dimanfaatkan oleh Belanda untuk berkuasa di tanah Konawe.

Akhirnya dengan kekosongan itu berhasillah Belanda membujuk Sao-Sao, Sapati Ranome’eto untuk bersatu dengan Belanda memadamkan perlawanan orang Tolaki terhadap Belanda. Sebagai jasanya ia menjadi Raja Laiwoi, suatu kerajaan baru bentukan Belanda untuk menenggelamkan Kerajaan Konawe. Struktur Kerajaan Konawe sebagai Siwole Mbatohuu dan Pitu Dula Batu serta Tolu Mbulo Anakia Mbuutobu dirubah menjadi wilayah-wilayah distrik.

Gelar mokole sebagai gelar raja diganti dengan sangia. Jabatan Sapati tetap, hanya beralih wilayah dari Ranome’eto ke Abuki, demikian halnya jabatan ponggawa awalnya berlokasi di Tonga’una beralih ke Po’asia. Jabatan-jabatan lain semua ditiadakan. Pada tingkat wilayah kampung, jabatan toonomuto, pabitara dan tolea tetap dipertahankan sebagai pemangku adat. Jabatan-jabatan tamalaki, o tadu, mbu’akoi, mbuowai, mbusehe tidak lagi merupakan pimpinan resmi tetapi hanya sebagai pemangku adat biasa yang tidak memiliki fungsi di masyarakat. Belanda sengaja menghapus jabatan-jabatan ini karena dianggap melawan kebijakannya.

Pada tanggal 24 Januari 1942 Jepang mendarat di Kendari, terjadi pertempuran antara tentara Jepang dan sisa-sisa tentara Belanda yang masih tinggal di Kendari yang dimenangkan Jepang. Berkuasalah Jepang di Kendari sampai tanggal 14 Agustus 1945. Pada masa pendudukan Jepang, terjadi penggantian beberapa istilah wilayah kekuasaan dan jabatan penguasa ke dalam istilah bahasa Jepang. Istilah afdeeling diganti dengan istilah ken, onderafdeeling diganti dengan bun ken, masing-masing nama jabatannya adalah Ken Kan Rikan, dan Bun Ken Kan Rikan. Istilah distrik atau onderdistrik diganti dengan istilah gun, demikian istilah kampung, diganti dengan istilah son, masing-masing nama jabatannya Gunco dan Sanco.

Kembalinya Belanda dengan nama NICA, secara serentak ditentang oleh peduduk setempat. Dengan senjata rampasan dan semangat heiho dari Jepang, penduduk mengadakan perlawanan terhadap NICA dalam rangkaian perjuangan Republik Indonesia mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sejalan dengan masa kemerdekaan tersebut, pada tanggal 27 April 1964 Sulawesi Tenggara terbentuk sebagai provinsi yang definitif berpisah dari Provinsi Sulawesi Selatan.

Konaweeha [bagian2]

Membaca kembali tesis saudara Yasmud yang berjudul “Tradisi Lisan Mowindahako Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara”, sangat membuka wawasan kita akan bagai mana sejarah jaman dulu, langkah preventif membuat dokumentasi sejarah adalah upaya menyelamatkan budaya hari ini dan kemudian kelak.

Saduran ini merupakan tulisan lanjutan dari tulisan sebelumnya mengenai Sejarah Konaweeha [bagian1] yang memperlihatkan periodik zaman waktu itu.

raja pertama Kerajaan Konawe bernama Totongano Wonua yang berkedudukan di Padangguni. Raja atau biasa disebut Mokole Padangguni, Totongano Wonua memiliki seorang putra bernama Langgai Moriana (Ramandalangi). Langgai Moriana kemudian menikah dengan putri dari Kerajaan Luwu yang bernama Wetenriabeng (Wekoila) saudara kandung Sawerigading (Larumbalangi). Setelah mereka menikah diangkatlah Wekoila menjadi Mokole More (Raja perempuan) pertama di Konawe.

Ramandalangi dan Mokole More Wekoila memiliki anak bernama Pode Suwa dengan gelar Elu Kambuka Sio Ropo (gadis yang berambut 9 depa) yang terkenal akan kecantikannya hingga di berbagai pelosok negeri. Pada masa itu, datanglah penyakit yang memusnahkan seluruh rakyat Kerajaan Konawe hingga Wekoila pun turut menjadi korban keganasan penyakit yang mematikan yang disebut Oropu. Hingga yang tersisa hanya Pode Suwa (Elu Kambuka Sio Ropo), Latuanda dan putrinya.

Pada masa itu ada seorang laki-laki bernama Onggabo (raksasa) yang melakukan perjalanan di Kerajaan Konawe dengan menyusuri Sungai Konawe’eha sampai ke hulu sungai. Dalam perjalanannya, Onggabo menemukan segulung rambut yang terbawa arus sungai Konawe’eha, ia pun berkesimpulan bahwa di hulu sungai pasti masih ada orang yang masih hidup. Ternyata perkiraan Onggabo benar bahwa memang masih ada manusia yang masih hidup.

Saat Onggabo mencari dimana kediaman orang yang masih hidup tersebut dan tidak berapa lama Onggabo menemukan gubuk Latuanda di pinggir sungai lalu ia pergi di gubuk itu. Setelah tinggal di gubuk Latuanda untuk beberapa lamanya, Onggabo kemudian meminang Pode Suwa (Elu Kambuka Sio Ropo), dan juga anak Latuanda, maka lahirlah anak-anak Onggabo. Onggabo kemudian menjadi raja di Kerajaan Konawe dan membangun istana raja di Olo-Oloho yang menjadi pusat penyelenggaraan pemerintahan.

Perkawinan Onggabo dengan Pode Suwa melahirkan dua anak yang bernama Anamiandapo dan Tanggolowuta. Setelah Onggabo mangkat, Anamiandapo kemudian menggantikan ayahnya menjadi raja di Kerajaan Konawe, namun tidak lama setelah itu, Anamiandapo mangkat dan tidak mempunyai keturunan akhirnya digantikan oleh adiknya Tanggolowuta menjadi raja Konawe. Raja Tanggolowuta memperistri Webarandi dan mempunyai dua orang puteri dengan nama Mbulanda dan adiknya bernama We’alanda.

Kedua putri Tanggolowuta akhirnya diperistri oleh Elu Langgai. Dari istri pertamanya Mbulanda ia mendapatkan seorang putera bernama Haluoleo, sedangkan pada istri keduanya ia mendapatkan empat orang anak yaitu Melamba, Puteo (kelak menjadi raja Bungku), Tawe Niwite (kelak menjadi raja di Moronene), dan Larono Wonua.

Setelah Raja Tanggolowuta mangkat, Melamba naik tahta menggantikan ayahnya menjadi raja Konawe dan beristrikan puteri mahkota dari Kerajaan Luwu yang bernama Tandriawe. Pada masa pemerintahannya, banyak gangguan dari kerajaan-kerajaan lain yang menyebabkan keamanan dan ketertiban di Kerajaan Konawe menjadi labil. Untuk itu, Raja Melamba kemudian meminta bantuan pada kakaknya Haluoleo untuk menghalau musuh-musuhnya, dan pada akhirnya dapat diatasi. Setelah Raja Melamba mangkat, maka berakhirlah dinasti Onggabo, Kerajaan Konawe mengalami kevakuman pemerintahan selama dua generasi.

Bersambung [bagian3]

Konaweeha [bagian1]

Banyak refrensi yang saya dapatkan mengenai berdirinya kerajaan Konaweeha, semua sepakat dan menentukan bahwa kerajaan konaweeha berdiri di abad ke 10 kisaran abad ini menurut wiki berlangsung sejak 901 M hingga 1000 M. di sumber salah satu tesis oleh Ardianto Azis di Lib UIN Malang menyebutkan sebenarnya kerajaan konaweeha sudah ada sejak Abad V masehi dengan raja pertama Tanggolowuta hanya model pemerintahan saat itu masih sangat sederhana.

Menurut tradisi lisan masyarakat Tolaki bahwa jauh sebelum kerajaan Konawe terbentuk sudah ada beberapa kerjaan kecil terbentuk di antaranya seperti Wawolesea, Besulutu, Padangguni. Kemudian beberapa kerajaan kecil tersebut di integrasikan menjadi satu kerajaan Konawe atas peran seorang Wekoila yang merupakan istri dari Mokole To Ramandalangi, kejadian ini sekitar abad ke 10, sehingga di yakini abad ni lah awal mula terbentuknya Kerajaan Konaweha.

Menurut Ardianto yang menanyakan dari sumber lisan dari beberapa nara sumber seperti Joham Mekuo, Muslimin Suud mengatakan bahwa Wekoila adalah raja pertama di kerajaan konawe pada abad ke 10 M, ada beberapa alasan kenapa Wekoila yang disepakati sebagai Raja pertama di konawe:

  1. Sebelum menjadi Mokole More I di Konawe, Raja-raja yang memerintah sebelumnya belum memilii konsep atau sistem pemerintahan yang teratur.
  2. Raja-raja memerintah secara otokrasi tidak menggunakan aparat pembantu Raja sehingga roda pemerintahan tidak berjalan dengan baik.
  3. Raja-raja belum memahami, apa yang harus di kerjakan, kepada siapa bertanggung jawab, sehingga pemerintahan raja seakan terjadi kevakuman.

Degan kemunculan Wekoila sebagai raja Konawe pada abad ke 10 M, sekitar tahun 948-968 M dengan pusat pemerintahan di inolubu Nggadue (Unaaha) membuat sistem pemerintahan yang teratur dan terorganisir.

Menurut Rustam Tamburaka, membagi tiga masa perkembanagan kerjaan Konawe yaitu:

  1. Periode Zaman Kuno (Abad 5 – 10 Masehi) masa pemerintahan Mokole Roro tahun 428-447 M sampai dengan pemerintahan mokole Toramalangi dengan gelar Totongano Wonua 828-948 M.
  2. Periode ZamanLama (Abad 10-15 Masehi) masa pemerintahan ratu Wekoila 948-968 sampai dengan masa pemerintahan raja Lakidende I 1416-1448
  3. Periode Zaman Baru (Abad 15-19) peride ini di bagi menjadi tiga periode lagi yaitu:

3.1. Zaman pertengahan (Abad 15-16)

Periode pertengahan kerjaaan Konawe di mulai pada masa pemerintahan Rundulamoa atau Onggabo 1448-1478 M samapai dengan masa pemerintahan Melamba 1539-1478 M.

3.2. Zaman Madya (Abad 16-18)

Periode Zaman Madya dimulai pada zaman pemerintahan raja Tebawo (Sangia Inato 1602-1668) sampai dengan masa pemerintahan Lakidende II (Sangia Ngginoburu 1724-1786 M)

3.3. Zaman Peralihan (Abad 18-19)

Adalah masa pemerintahan perdana mentri Sulemandra (pakandatea, Sulemandra, Saranani). Zaman ini merupakan masa kemunduran kerajaan Konawe, sebelum akhirnya runtuh pata tahun 1858 M. Setelah keruntuhan kerajaan Konawe dimulai masa dan sejarah baru, dengan berdirinya kerajaan Laiwoi dibekas kerajaan Konawe pada tahun 1858-1955 M.